Belajar Dari Burung

Ternyata pelajaran hidup itu tak selalu bersama papan tulis, buku dan pena. Banyak guru-guru di luar sana, bahkan di antara mereka mungkin adalah orang -orang yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.

Dalam perjalanan pulang dari terminal Kampung Rambutan, menumpangi sebuah angkot tua yang sepi penumpang. Hanya dua orang dan saya adalah orang ketiga. Ketika hendak duduk di depan di sebelah sopir, pada saat saya menoleh untuk membuka pintu, ternyata sopirnya jauh lebih tua dari angkotnya. Umurnya sudah 68 tahun dan telah menjajaki kaki untuk beradu nasib di tengah kerasnya kehidupan ibukota semenjak tahun 1994 yang lalu.

Beberapa saat setelah angkot tua itu keluar dari pintu tol Jatiwarna, bapak tua tiba-tiba mencairkan suasana. Sambil tertawa kecil ia bergumam:

“Sepi penumpangnya ya, uang tol aja udah Rp. 9.500, tapi kita kan tetap usaha ya….”

Saya paham maksudnya. Terbayang, ongkos angkot yang hanya Rp. 6.000 perorangnya harus dikurangi dulu dengan biaya tol. Sedangkan, penumpangnya tidak lebih dari hitungan jari sebelah tangan. Belum lagi untuk bensin dan setorannya. Dimana bagian buat si”bapak”??

Tapi, bapak tua itu tak terlalu resah dengan semuanya. Ia yakin rezekinya telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa, ia hanya bisa berusaha.

Inilah yang membuat saya merasa salut dengannya. Ia tetap bekerja meski sudah tua, disaat banyak anak-anak muda hanya menghabiskan waktu di atas kasurnya. Ia tetap berusaha meski hasil yang diperoleh tak semanis yang didamba.

DAN TERNYATA……

Rezeki, satu hal yang membuat banyak orang gelisah, takut dan merasa sempit setiap saat. Ternyata, telah ditetapkan jauh sebelum kita terlahir ke dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ
“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya dalam bentuk setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari juga, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh. Kemudian malaikat itu diperintahkan untuk menulis empat perkara padanya; menuliskan rezeki, ajal, amal dan kecelakaan atau kebahagiannya.” (HR. Bukhari: 3208, Muslim: 2643)

Dan ternyata juga, kita tidak akan mati sebelum sempurna jatah rezeki kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ

“Sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak: 2135, ash-Shahihah: 6/209)

Bahkan, dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugumpamakan rezeki itu ibarat kematian. Dari Jabir, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهَرَبُ مِنَ الْمَوْتِ؛ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ

“Seandainya anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mendatanginya sebagaimana kematian mendatanginya.” (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah: 952)

JANGAN RAGUKAN LAGI

Al-’Allamah Al-Munawi setelah menyebutkan hadits diatas menjelaskan:

“Karena Allah ta’ala yang menjaminnya. Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada seekor binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya. (QS. Hud: 6)

Kemudian Allah tidak merasa cukup dengan jaminan tersebut sehingga Allah bersumpah. Allah berfirman:

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ * فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ

Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijadikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS. Adz-Dzariyat: 21-22)

Barang siapa yang tidak merasa tenang dengan jaminan-Nya, tidak puas dengan pembagian-Nya, tidak peduli dengan perintah, janji dan ancaman-Nya maka dia termasuk orang-orang yang celaka. Al-Hasan al-Bashri pernah mengatakan:

لَعَن َالله ُأَقوَامًا أَقسَم َلَهُم رَبُّهم فَلَم يُصَدِّقُوه

‘Allah melaknat kaum yang Rabb mereka bersumpah untuk mereka namun mereka tidak membenarkan-Nya.’

Harm bin Hayyan bertanya kepada Ibn Adham: ‘Kemana engkau memerintahkanku untuk bermukim??’ Ibnu Adham menjawab dengan isyarat tangannya, ‘ke Syam.’ Harm kembali bertanya: ‘Bagaimana ma’isyah (penghidupan) di sana??’ Maka Ibrahim bin Adham pun mengatakan:

أُفً لِهَذِه ِالقُلُوب، ِلَقَد خَالَطَهَا الشَّك ُّفَمَا تَنفَعُهَا الموعِظَة!ُ

‘Ah, kasihan hati-hati ini, sungguh keraguan telah mencampurinya, tidak berguna lagi nasehat baginya.’” (Faidhul Qadir: 5/305-306 cet. Darul Ma’trifah tahun: 1391 H)

BELAJAR DARI BURUNG

Kita perlu belajar dari makhluk Allah yang lain. Sebab, terkadang ada banyak hal yang tidak ada pada diri kita tapi ada pada mereka. Burung, satu di antara sekian banyak makhluk Allah yang patut kita tiru. Terutama dalam masalah hati. Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengatakan:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

“Beberapa kaum masuk surga, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Muslim: 2840)

Ada apa dengan burung?? Ternyata mereka adalah lambang sifat tawakkal. Hati mereka lembut dan penuh dengan keyakinan terhadap kasih sayang Allah.

Manusia perlu belajar dari mereka, karena banyak yang merasa ragu dengan rezeki yang telah Allah janjikan buat mereka.

Yakin dan tawakkal, mengantarkan burung hidup bahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rizki seperti rizkinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh.” (HR. Tirmidzi: 2433)

Coba lihat, burung keluar dari sarangnya hanya bebekal tawakkal kepada Allah. Keyakinan yang benar-benar terhadap janji-Nya. Ia tidak tahu tempat apa yang akan ia tuju untuk mendapatkan rezeki. Kemana ia harus pergi dan dimana ia harus mulai. Namun, karena sifat tawakkal itulah ia mendapatkan rezeki tanpa susah payah.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan:

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: تَوَكَّل تُسْقَ إِلَيْكَ الأَرْزَاق بِلَا تَعْبٍ وَلَا تَكَلُّفٍ

“Sebagian ulama salaf mengatakan, ‘Tawakal akan mengalirkan rezeki kepadamu tanpa keletihan dan usaha keras.’”(Jami’ul Ulumi wal Hikam: 2/502)

Bandingkan dengan manusia, seorang guru sudah tahu sekolah yang akan ia tuju. Seorang pedagang; pasar, petani; sawah dan ladang, nelayan; laut yang luas dan kaya, karyawan; kantor dan pabrik, dst. Akan tetapi, mereka masih khawatir karena kurangnya sifat tawakkal.

Maka oleh sebab itu, belajarlah dari burung, jadikanlah hati kita seperti hatinya burung; penuh dengan sifat tawakkal kepada Allah, kemudian berusaha dan mencari sebab-sebab rezeki. Dengan begitu kita tidak akan takut, sedih dan gelisah dengan apa yang telah dijanjikan Allah. Seperti burung dan seperti bapak tua dan angkot tuanya itu.

Sumber : maribaraja.com