Dua hal yang membuat manusia bersimpang jalan

Berdebat, saat ini sudah sangat sering dan mudah terjadi. Berdebat seolah-olah menjadi hal yang harus dilakukan untuk mempertahankan argumen yang dimiliki. Tapi namanya debat, biasanya bukan mencari pendapat yang benar tapi membenarkan pendapat yang diyakini.

Ada dua hal yang membuat manusia bersimpang jalan,

1. Sikap mencari kebenaran.

Biasanya orang yang mencari kebenaran, awalnya ia mudah menerima perbedaan dan tidak serta merta membenarkan perbedaan yang ada dihadapannya. Ia akan selalu kritis terhadap pendapat-pendapat yang datang.

Kita pernah mendengar dan membaca kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam ketika beliau bedebat dengan Kaum nya yang menyembah bintang-bintang dan benda langit.

Kisah ini bisa dilihat dalam Al -Quran surat al-An’am: 74 – 78, didalam ayat ke 78, sebagaimana diterangkan dalam KonsultasiSyariah.com

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Itulah gambaran sikap mencari kebenaran. Dan jika diaplikasikan dalam kehidupan sekarang bisa sebagai sebuah acuan, bahwa ketika kita ikut suatu pendapat sebaiknya tidak langsung serta merta membenarkannya kecuali ada dalil dan hujjah yang membenarkannya.



2. Sikap mencari pembenaran.

Orang yang mempunyai sikap seperti ini sangat sulit dinasehati. Apapun alasan dan dalil yang dibawakan, sangat sulit diterima oleh orang dengan karakter ini. Dan sayangnya, sekarang orang dengan tipe ini sungguh sangat banyak.

Ketika seseorang yang suka sebuah maksiat, dia akan mencari guru atau pendapat yang membolehkan apa yang ia lakukan, minimal hujjah yang ringat terhadap maksiat yang dilakukannya.

Misal, ada seseorang pecinta rokok, ia akan berdiri dibarisan guru dan pendapat yang membolehkan merokok dengan segala macam dalil yang diada-adakan padahal rokok telah dinyatakan benda yang berbahaya untuk dikonsumsi oleh banyak dokter ahli dan ulama-ulama berkompeten, tapi itu sangat tidak diterima oleh mereka pecinta rokok.

Itu juga berlaku kepada pecinta riba, ia akan mencari alasan supaya yang dilakukannya itu minimal dinyatakan sebagai hal darurat padahal ulama sudah secara terang-terangan dan nyata sebagai hal yang haram.

Pun bagi pelaku maksiat-maksiat lainnya, ia akan berdalih mencari pembenaran terhadap pendapatnya.

Itulah dua hal yang bertolak belakang yang membuat orang-orang bersimpang jalan. Semoga kita dikuatkan diatas kebenaran dan dimudahkan dalam mencari kebenaran yang sebenar-benarnya benar.