Perang marathon melawan COVID-19

Menurut Sekjen PBB Antonio Guterres, hanya vaksin yang merupakan kunci kembalinya kehidupan normal seluruh ummat manusia. Selagi masih belum ditemukan vaksin dan obat yang efektif maka perjalanan COVID-19 akan berlanjut terus tanpa batas, yang membedakannya dengan sekarang hanya puncaknya tidak setinggi waktu pandemi, tetapi grafiknya akan memanjang bisa satu atau dua tahun. Sampai saat ini belum ada obat yang benar benar terbukti efektif. Vaksin pun diperkirakan memerlukan waktu satu sampai satu setengah tahun dari sekarang.

Persoalan dengan belum ditemukan vaksin, maka belum ada cara menghambat penularannya. Satu satunya cara menghambat penularan adalah dengan membatasi pergerakan orang dengan cara social distancing, physical distancing, cuci tangan sesering mungkin dan mengenakan masker.

Hal diatas akan mengakibatkan pergerakan umat manusia akan sangat terbatas, banyak yang tak bisa tergantikan oleh “work from home” ataupun media online. Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial sehingga kontak sosial sangat diperlukan dalam berinteraksi.

Akibatnya maka ekonomi akan bergerak sangat lambat :
Banyak pekerja yang akan kehilangan pekerjaan.
Banyak pengusaha yang akan mengalami pailit.
Banyak karyawan yang akan diberhentikan.
Banyak karyawan dan pekerja yang akan menderita pengurangan penghasilan.
Pekerja non formal seperti pedagang kaki lima akan kehilangan pelanggan dan kehilangan pendapatan.
Pekerja non formal seperti penjual makanan keliling akan kehilangan pelanggan dan kehilangan pendapatan.

Akibat kumulatif dari hal diatas, maka pengangguran akan semakin banyak dan angka kriminalitas serta kejahatan lain akan semakin meningkat.

Pemerintah harusnya punya “grand design” yang komprehensif dan terbuka kepada rakyat Indonesia tentang grand design tersebut. Masyarakat harus paham akan dibawa kemana bangsa ini dalam menghadapi cobaan yang begitu berat ini.

Sampai saat ini , pemerintah terkesan masih menyederhanakan masalah dan seolah olah masalah akan berakhir segera dan ekonomi kita akan mengalami rebound di tahun 2021 setelah depresi ditahun ini. Kita khawatir harapan yang muluk ini seolah olah menyederhanakan masalah dan tidak menyelesaikan masalah.

Opsi pembatasan ketat seperti yang dilakukan oleh China jelas sangat membantu memutus sebagian besar rantai penularan walaupun tentu akan mengorbankan ekonomi dalam masa singkat. Hal ini sangat membantu menurukan dan melandaikan kasus sehingga jumlah yang sakit akan tertampung oelh fasilitas kesehatan. Memang pembatasan ketat tidak menyelesaikan masalah 100%, tetapi jelas alan mengurangi katakanlah 75%. Untuk kondisi saat ini hal itu jelas alan membantu.

Hal itu akan jauh lebih baik dengan pembatasan sebagian seperti saat ini, akan terjadi penurunan kasus, tetapi tidak benar benar turun. Masalah akan berlarut larut dan ekonomi akan terus memburuk.
Yang lebih jeleknya dengan pemanjangan perjalanan penyakit ini maka kita akan menyaksikan:

Perusahaan perusahaan besar pelan pelan ambruk.
Satu satu asset kita akan diambil alih oleh bank untuk pembayar utang.
Yang lebih jelek.
Satu satu teman dan sahabat kita akan meninggal.
Satu satu keluarga kita akan meninggal
Bahkan mungkin istri kita atau suami kita akan meninggal.

Kita yakin, kegotong royongan bangsa kita akan sangat membantu dalam menghadapi masalah ini. Tetapi selain kegotong royongan itu kita perlu kapten yang tangguh.

Kita perlu nakhoda yang paham dalam menghadapi gelombang besar yang mematikan ini.

Bersama sama kita susah dan menderita
Bersama sama kita bangkit lagi.
Tetap semangat demi Indonesia.

Jakarta, 17 April 2020.

Patrianef Darwis
Dokter Spesialis-Subspesialis
Dosen Fakultas Kedokteran
Ketua Umum KomNasKes dan KomKesNas( berbadan hukum).