Tiket pesawat mahal, bukti pemerintah tidak siap dengan negara kepulauan..?

Foto by Fotolia.com

Mahalnya harga tiket beberapa bulan belakangan ini membuat pengguna burung besi itu berkurang. Apalagi dimusim mudik lebaran 2019 ini.

Dari info yang banyak disiarkan di televisi dan dari portal berita online seperti beritagar.id [ https://beritagar.id/artikel/berita/pemudik-dengan-pesawat-anjlok-20-30-persen ], tercatat penurunan angka pemudik menggunakan pesawat hingga 30%. Itu artinya kampuan dan daya beli masyarakat terhadap harga tuket pesawat yang tinggi juga terbatas.

Fakta uniknya, pemudik menggunakan jalur darat dikabarkan sangat lancar, apakah itu dikarenakan sedikitnya jumlah pemudik atau memang infrastrukturnya yang sudah mulai bagus. Kita berharap saja itu karena infrastrukturnya sudah mulai bagus untuk melayani pemudik jalur darat.



Kembali ke topik judul. Indonesia yang dikenal dengan negara kepulauan, sudah seharusnya akses antar pulau itu daoat ditempuh dengan waktu yang relatif cepat, singkap.dan dengan cost yang murah. Karena itu berdapak pada income daerah-daerah yang tidak terhubung langsung dengan jalur darat.

Saya teringat tentang diciptakannya pesawat R80 oleh Bapak BJ Habibie. Alasan logis nya adalah di Indonesia ada 17.000 pulau dan Indonesia perlu pesawat terbang jarak jauh, menengah, dekat-menengah. Sumber Detik [https://m.detik.com/finance/industri/d-3778949/ini-alasan-habibie-semangat-wujudkan-pesawat-r80]

Walaupun begitu, negara ini sudah dipegang oleh orang-orang terpilih, mereka pasti sudah memperhitungkan dengan baik dan matang akan dampak negatif dan positif keadaan tarif pesawat yang tinggi saat ini. Semoga mereka selalu diberi kemudahan dan kebaikan yang banyak sehingga bisa berbuat terbaik untuk bangsa dan negara ini.